bercermin pada klienku, seorang PRT

tiga bulan yang lalu, aku menerima klien di tempat praktek..ia seorang PRT..amat sangat jarang sekali tempat aku praktek menerima klien untuk berkonsultasi dari kalangan sosial-ekonomi dan pendidikan rendah, maklum lah area psikologi lebih banyak dimengerti dan dipahami oleh mereka yang berpendidikan cukup tinggi dengan standar ekonomi yang relatif baik..
sebut saja namanya ibu yanti..pada awal bertemu, aku bertanya asal mulanya ia sangat berkeinginan untuk memeriksakan anaknya pada seorang psikolog…ternyata ia bekerja pada seorang pengusaha yang lebih banyak berdomisili di US..keluhannya mengenai perkembangan anaknya yang bernama w disambut baik oleh si majikan sehingga ia mau membiayai pemeriksaan psikologis W sampai tuntas. Jika tidak, aku sangat berempati dan amat sangat rela untuk tidak dibayar demi ibu yanti yang sangat gigih…
ibu yanti menetap sementara di jakarta untuk menjaga rumah si majikan selama ia berada di US, hal ini juga dimanfaatkan ibu yanti untuk konsul..
ibu yanti sendiri berasal dari suatu dareh terpencil di jawa tengah dimana akses pendidikan dan kesehatan masih terbatas.
ibu yantu bercerita bahwa w lahir dalam keadaan gizi buruk..ia menceritakan bahwa w lahir dengan BB di bawah normal..ibaratnya seukuran botol dengan BB 1,7 kg, padahal usia kandungan ibu yanti cukup bulan untuk melahirkan..
w sama sekali tidak pernah mencicipi gurihnya susu baik ASI ataupun susu formula karena keterbatasan ekonomi..w hanya diberikan minum air dan gula!!..makanan tambahan juga tidak bergizi..sampai-sampai ibu yanti mengatakan w tumbuh apa adanya seperti tanaman liar yang tidak mendapatkan pupuk yang baik…
sekarang w berusia 7 tahun dengan ukuran tumbuh seperti anak berusia 3 tahun..semua perkembangannya terlambat beberapa tahun..w didiagnosa mengalami keterbelakangan mental…hal ini membuat ibu yanti merasa terpukul dan memohon agar aku bisa melakukan tindakan untuk mengoptimalkan kemampuannya, bahkan ia akan berusaha untuk bisa membeli segala macam obat atau vitamin yang berfungsi untuk mengoptimalkan otaknya…! rujukan untuk memasukkan w ke SLB belum dapat diterima ibu yanti karena alasan biaya atau transport ke sekolahan di kampung yang dirasakan cukup berat…..untuk pengeluaran tiap bulan di kampung ibu yanti haru merogoh uang sekitar 300 ribu..dan itu amat sangat berat ia keluarkan karena pekerjaan suaminya hanya sebagai petani sawah orang lain…untuk mengurangi biaya, ibu yanti mengantar kakak w ke sekolah dengan mengendarai sepeda yang dikayuh oleh ibu yanti sendiri selama 1 jam dari rumah!!…aku menarik nafas panjang….aku membayangkan diriku sendiri…kadang kala 300 ribu bisa dalam satu jam habis..atau untuk mengantar anakkku sekolah yang hanya berjarak kurang dari 1 kilo pun, aku mengeluarkan biaya yang signifikan..
yang hebat dari dari ibu yanti… dengan keterbatasannya, ia rela mengunjungi satu dokter ke dokter lainnya untuk memaksimalkan pengobatan anaknya..
kemarin ia menemuiku lagi, dan aku tidak memasukkannnya pada jadual praktek agar ia tidak perlu membayar biaya konsul..ternyata setelah menemui aku tiga bulan lalu, ia mendatangi dokter syaraf, ahli gizi, dokter THT dan terakhir terapis…sungguh…kejadian ini membuatku harus banyak mensyukuri nikmat Tuhan untuk keluargaku…dan yang pasti aku bercermin mengenai kegigihannya untuk berjuang demi anak-anaknya….

Leave a Reply